Sabtu, 10 Oktober 2009

Beda kita dan mereka adalah “Kesempatan”!!!

Di antara kedewasaan melakoni hidup adalah kemampuan menangkap dan memahami isyarat, tanda, simbol, dan sejenisnya. Mungkin, itulah bahasa tingkat tinggi yang dianugerahi Allah buat makhluk yang bernama manusia.


Manusia yang mencapai taraf yang disebut dewasa adalah seseorang yang mampu membedakan kata, sikap dan tingkah lakunya. Tentu semua itu sudah harus memberikan kontribusi kepada hal kebaikan, dan merekapun dituntut untuk peka dengan keadaan sekitarnya, sampai mencapai kepada makhluk yang disebut hamba Allah, Beda dengan anak kecil yang masih perlu mempunyai bimbingan dari orang dewasa, atau dengan kata lain orang tua.



Sudah hampir 10 hari berita duka itu masih terasa akrab di telinga kita, sebuah kejadian dimana dunia menyaksikan kesedihannya, Indonesia, ya!! GEMPA yang melanda padang di Sumatra Barat, telah menjadi berita utama di berbagai media. Bukan hanya kerugian material yang menimpa, bahkan jauh dari itu semua duka mendalam yang dialami keluarga itulah yang terpenting, kehilangan seseorang yang menjadi teman, orangtua, adik, kaka, dan sanak saudara yang kita sayangi itu lah alasan mengapa mereka menangis. Kita pun yang tidak memiliki sanak saudara ikut menangis, melihat begitu maha dasyat Allah menetapkan keputusanNya.



Bagi kita yang menonton sehingga ikut merasakan duka yang mendalam karena mereka adalah saudara kita. Tapi seperti apakah tangisan kita sesungguhnya?, kita lebih sedih ketika melihat sesuatu sudah didepan kita, kita lebih sedih dengan benda yang ada dihadapan kita ketika rusak. Tapi pernahkan kita terfikir dibanding kerusakan itu semua, pernahkah kita bersedih, ketika melihat masjid yang sedikit jamaahnya, saat shalat tiba? hanya orang-orang tua, yang sudah hampir uzur, yang pergi ke Masjid, dan jumlahnya tidak sampai satu shaf. Pernahkah kita bersedih, jika anak-anak muda jauh dari agama Islam, dan tidak faham dengan Islam?.



Bukan tidak boleh menangis, tapi apakah tangisan kita seperti anak kecil yang dirusak barang kesayangannya? Setelah lalu berlalu hilang semua kesedihannya, dimana kepekaan kita terhadap apa yang terjadi disekitar kita, bentuk suatu kesedihan hanyalah luapan emosi ketika sudah menangis, sudah…! air mata tersebut tidak dapat mengembalikan mereka. Mereka sudah pada kehendak Allah untuk menghadapnya.


Orang dewasa akan merubah tangisnya menjadi sebuah bahagia, kebahagiaan yang berawal dari doa, tapi doa bukan henya menengadahkan tangan kepadanya, doa kita sesungguhnya adalah merubah apa-apa yang menyebabkan semua itu terjadi.


Bercerita sedikit, saya membaca dari sebuah rubric media (www.eramuslim.com): Konon, dahulu di Sumatera Barat, ada ungkapan, yang memiliki akar sejarah, yaitu, ‘Adad bersendi syara’, dan syara’ bersendi Kitabullah’. Masihkah, Kitabullah (Al-Qur’an) menjadi pegangan, sandaran, dan rujukan hidup, serta pedoman hidup, terutama dikalangan masyarakat Sumatera Barat?


Sekarang, yang ada hanya kaum ‘pedagang’, yang menjadi generasi baru dikalangan masyarakat ‘Minangkabau’, semangat mengumpulkan menumpuk-numpuk harta, itulah yang menjadi kecenderungan baru. Mereka semuanya sibuk dengan urusan harta dan dunia, tapi mereka tidak mau lagi mengenal akhirat, dan kematian. Mereka terus mengumpulkan danmenumpuk harta, setiap hari dan waktu, tanpa lagi mengingat Rabbnya. Di pasar-pasar, toko-toko, dan perusahaan-perusahaan, yang memberikan kenikmatan kehidupan dunia, dan melalaikan mereka, sampai melalaikan shalat.


Pernahkah kita bersedih, ketika melihat anak-anak muda di kota Padang dan sekitarnya, yang wanitanya tidak lagi menutup aurat mereka? Pergaulan bebas melanda kehidupan mereka. Mereka yang mulai makmur, dan menikmati melimpahnya materi menjadi sangat bebas. Tempat-tempat wisata menjadi saksi atas berubahnya kehidupan mereka. Di malam minggu, pesisir kota pelabuhan Teluk Bayur, menjadi saksi atas bentuk-bentuk kemaksiatan, mereka berengkerama antara laki dan perempuan yang bukan muhrim, dan mereka lupakan kepada Rabbnya.


Di kota Padang, mall, plaza, hotel berbintang, serta kafe, menggantikan Surau bagi anak-anak muda. Di kota tempat-tempat yang menjadi kunjungan wisata, dan didatangi turis asing, seperti kota yang dekat dengan Danau Maninjau, tempat lahirnya Buya Hamka, konon sudah berani pedagang, yang memiliki rumah makan, menjual minuman keras (bir). Tidak takut lagi dengan syara’ (hukum agama). Konon, kalangan masyarakat Padang, yang sudah makmur ekonominya, orang tua menjadi sangat ‘malu’, kalau anaknya masih menggunakan bahasa Minang.


Lagi-lagi jika kita mengaku pada taraf kedewasaan, itu bukan sebuah cerita dongeng, dan yang pasti itu juga bukan hanya cerita Sumatra barat, sepertinya kita yang mengaku orang Indonesia yang mayoritas ISLAM, tentu bukan hal yang tabu ketika “Al-quran” menjadi hukum syari’at, keadaan masyarakat yang mengumpulkan hartapun bukan hal di Sumbar saja terjadi, bahkan ibu kota Jakarta jauh lebih sibuk dengan kegiatan mencari teman yang bernama “Uang”. Terlebih keadaan anak muda yang sudah jarang ke surau, itupun terjadi dengan daerah kita saat ini, tidak harus di Sumbar. Dan karena kebutuhan akan hal yang terjadi ketika agama sudah menjadi hal yang dibelakangkan, jangan harap masjidpun akan ramai, parahnya kebutuhan pula yang membuat lebih banyak bangunan yang memberi manfaat financial untuk kehidupan yang menjadi prospek utama pembangunan.


Orang yang peka dengan keadaan di sekitarnya, menangisi terhadap mereka yang sudah jauh dari Rabbnya, dan meninggalkan agamanya Islam? Mengapa kita tidak menangisi generasi yang sudah jauh dari agamanya Islam, dan menjadi porakporanda akhlaknya, perlilaku kehidupannya, yang akan lebih menghancurkan lagi bagi kehidupan. Tidak ada artinya kerusakan dan kehancuran akhlak, disbanding dengan gempa yang porakporandakan itu. Padahal, semua kehidupan di dunia pasti akan berakhir, termasuk kehidupan manusia itu sendiri. (Merekakah “KITA”??)


Bukan masjid yang sepi, karena fungsi masjid itu sendiri adalah rumah Allah, membangunnya bukan hanya dengan uang yang banyak, saat ini hati kita yang belum terbangun untuk mengenal Allah dan hakikat kehidupan kita, dan saya yakin bukan karena tidak ingin nya kita merubah bukan??? Namun kita tidak sadar bahwa sudah terpedaya dalam kehidupan dunia. Kesadaran itu lahir dengan petunjukNya (Al-quran), Untuk itu semua tangisan kita harus berubah menjadi “BAHAGIA”. Dan kebahagiaan itu hanya akan kita dapat ketika kita mengucapkan kalimat : "LAA ILAAHA ILLALLAAH, MUHAMMADUR-RASULULLAAH" bentuk tauhid kita kepada sang Rabb.

Dalam Al Quran kita sempat diingatkan (QS-Al An'aam: 64) Katakanlah: "Allah menyelamatkan kamu dari bencana itu dan dari segala macam kesusahan, kemudian kamu kembali mempersekutukan-Nya."

(QS. Al-Hijr :18 ) Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.


Bagi kita yang masih diberi kesempatan,,,???? Masihkah kita bisa untuk MENUNGGU?? Atau tetap menjadi PENONTON dalam hidup ini? Jika HIDUP hanya sekali…???

Jumat, 09 Oktober 2009

Jika Hidup hanya Sekali..???!!

Berbicara tentang kehidupan kebanyakan saat ini yang terfikir kita jauh terbentang adalah mulai dari pemenuhan kebutuhan pokok dan sampai hal yang lainnya. Namun pernahkan kita bertanya pada semua itu, apakah sesungguhnya itu semua dapat memuaskan hati kita??. Tentu jawaban yang akan di dapat adalah berbeda. Perbedaan tersebut akan terlihat seberapa pandai kita dalam menilai dunia ini.


Kehidupan manusia diatas bumi ini menghadapi berbagai macam masalah dan kebutuhan yang mendorong untuk menggunakan potensi yang dimilikinya sesuai dengan rangsangan tentang kebutuhan dan masalah yang timbul tersebut. potensi tersebut terdiri dari tubuh (fisik) yang meliputi rongga kepala dan rongga badan yang didalamnya terdapat panca indera dengan bagian-bagiannya. Selain anggota tubuh manusia juga memilki rohani yang meliputi Akal/ ratio, yang melahirkan fikir sehingga timbul ilmu pengetahuan dan filsafat. Rasa yang dapat melahirkan keharuan, kesenangan (emosi dan imajinasi) yang berwujud karya seni. Dan manusia pun memiliki kepercayaan dan keyakinan.


Kesemua itu saling lengkap-melengkapi dan ada kaitanya satu sama lain dalam berkreasi terhadap rangsangan yang datang pada dirinya.


Potensi manusia selalu digunakan dalam mencari, mengumpulkan, menganalisa, dan menyimpulkan masalah yang datang pada dirinya, walaupun hal tersebut bersifat subjektif, karena menggambarkan warna dalam keadaan diri seseorang, jadi belum tentu terdapat pada setiap orang apalagi keseluruhan. Keadaan ini menyatakan adanya keterbatasan kemampuan manusia untuk melahirkan ide dan perilaku.


Atas hal tersebut yang terjadi ketidakpusan manusia di dalam kehidupannya mengakibatkan adanya usaha untuk mencari pemenuhan kebutuhan dengan melihat, membandingkan, menyamakan, dan mengambil hasil pendapat dari luar dirinya yang dianggap akan dapat menambah, memenuhi, dan menjelaskan hal-hal dirasakan kurang didalam dirinya. Akan tetapi semua yang berasal dari hasil penggunaan potensi manusia tidak ada yang dapat menjawab dan menjelaskan ketidakpuasan yang timbul dalam dirinya, sehingga hal ini mendorong manusia untuk meminta bantuan keluar diri manusia (metafisika) Metafisika (Bahasa Yunani: μετά (meta) = "setelah atau di balik", φύσικα (phúsika) = "hal-hal di alam") adalah cabang filsafat yang mempelajari penjelasan asal atau hakekat objek (fisik) di dunia. Metafisika adalah studi keberadaan atau realitas. Metafisika mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti: Apakah sumber dari suatu realitas? Apakah Tuhan ada? Apa tempat manusia di dalam semesta?.(www.wikipedia.org)


Namun lagi-lagi semua perangkat komponen yang dimiliki manusia itu tergantung pada sebuah multi system dari kesuluruhan itu adalah “Akal”. Jika dalam sebuah system kerja pada computer akal ibarat processor, dan hati adalah memori untuk memproses kegiatan akal, namun jauh sebelum semua kegiatan tersebut terlaksana, ada satu post di computer tersebut yaitu BIOS (Basic input output system) merujuk kepada kumpulan rutin perangkat lunak yang mampu melakukan segala kegiatan perangkat computer sehingga dapat berfungsi dengan baik dan benar.


Lalu apa hubungannya dengan manusia, apa Basic input output system untuk mesin kehidupan ini. Bagi kita yang meyakini bahwa dalam islam ada 6 pilar keimanan ada satu yang ada disamping kita saat ini dialah yang diturunkan oleh tuhan untuk pedoman manusia, dari sana kita tau siapa Allah tuhan seluruh alam, pemilik kekuasaan, malaikat yang setia kepadaNya dalam menjadi tentara Allah, kita pun mengenal rasul yang diutusa sebagai rahmat bagi seluruh alam, dialah Muhammad nabi terakhir yang membawa peradaban dunia dengan perjuangannya sampai kepada gambaran yang Allah beritahukan bahwa akan adanya hari kiamat dan kita akan dibangkitkannya (hari akhirat) setelah itu . Itu semua adalah “Alquran”, inilah basic awal untuk seluruh manusia, sebagai peraturan yang jelas sebagai pengatur seperangkat tubuh manusia, yang menunjukkan proses untuk sebuah hidup dan dan sebagai hujjah (alasan) atas segala yang dilakukannya. Sehingga jika kita sudah mau dekat dengan kitab Nya, impian untuk menjadi hamba kesayangan dan kemakmuran untuk bumi inipun bukan hanya angan. Al-Baqarah (2:185)…Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).


Seperti kebanyakan orang bilang "Hidup hanya sekali", jadi manfaatkanlah. Mendengar kata itu, mungkin tidak asing ditelingan kita semua, baik itu di kalangan teman, atau lingkungan kerja. biasanya kata itu terucap ketika ada sebuah pilihan dalam hal tindakan yang membuat kita untuk "memilih" bisa jadi menjadi hal yang bersinggungan dengan hati nurani atau sebaliknya berlawanan dengan lingkungan, ya! itu bisa terjadi.



Keadaan yang tidak mutlak melahirkan kerusakan, kesementaraan, dan akhiranya kebinasaan pada diri manusia itu sendiri. Sesuai dengan perkembangan kemampuan mencari kebenaran mutlak dan universal yang dapat berlaku untuk keseluruhan rangsangan dengan tidak mengenal batas waktu, jenis, jumlah, dan nilai.


Kebenaran mutlak dan universal itu lahir dari agama, yang bersumberkan wahyu llahi yang dapat berlaku untuk keseluruhan jaman, dan manusia yang akan dan mau menggunakannya, karena sumber pembuatnya sendiri bukanlah manusia yang terbatas kemampuan dan dan perkembangannya, karena selalu dipengaruhi oleh kondisi lingkungan sosial dan alam yang juga selalu berubah dan tidak dapat universal.


Al-Hijr (15:9) Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.

Al-Imran (3:19) Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.


Dan karena manusia selalu berhadapan dengan lingkungan selalu mengadakan penyesuaian (adjustment), sejauh mungin bilamana penyesuian tidak dapat dilakukan maka manusia menerima keadaan itu konstanta dan dia menyerah pada keadaan yang demikian (adaption).


Kapan manusia bersikap demikian, itu bergantung pada pengambilan keputusan dengan menggunakan potensi yang ada pada dirinya, sehingga pengambilan keputusan tersebut akan berakibat pada pemuasan masalah. Jadi kesuksesan kita itu masih bisa kita buat atas pilihan hidup yang kita buat, seperti dalam surat Al-Balad (90:10) Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.


Untuk itu kembali kepada sejauh mana kita semua memandang dunia ini, jika “hidup hanya sekali” ????