Di antara kedewasaan melakoni hidup adalah kemampuan menangkap dan memahami isyarat, tanda, simbol, dan sejenisnya. Mungkin, itulah bahasa tingkat tinggi yang dianugerahi Allah buat makhluk yang bernama manusia.
Manusia yang mencapai taraf yang disebut dewasa adalah seseorang yang mampu membedakan kata, sikap dan tingkah lakunya. Tentu semua itu sudah harus memberikan kontribusi kepada hal kebaikan, dan merekapun dituntut untuk peka dengan keadaan sekitarnya, sampai mencapai kepada makhluk yang disebut hamba Allah, Beda dengan anak kecil yang masih perlu mempunyai bimbingan dari orang dewasa, atau dengan kata lain orang tua.
Sudah hampir 10 hari berita duka itu masih terasa akrab di telinga kita, sebuah kejadian dimana dunia menyaksikan kesedihannya,
Bagi kita yang menonton sehingga ikut merasakan duka yang mendalam karena mereka adalah saudara kita. Tapi seperti apakah tangisan kita sesungguhnya?, kita lebih sedih ketika melihat sesuatu sudah didepan kita, kita lebih sedih dengan benda yang ada dihadapan kita ketika rusak. Tapi pernahkan kita terfikir dibanding kerusakan itu semua, pernahkah kita bersedih, ketika melihat masjid yang sedikit jamaahnya, saat shalat tiba? hanya orang-orang tua, yang sudah hampir uzur, yang pergi ke Masjid, dan jumlahnya tidak sampai satu shaf. Pernahkah kita bersedih, jika anak-anak muda jauh dari agama Islam, dan tidak faham dengan Islam?.
Bukan tidak boleh menangis, tapi apakah tangisan kita seperti anak kecil yang dirusak barang kesayangannya? Setelah lalu berlalu hilang semua kesedihannya, dimana kepekaan kita terhadap apa yang terjadi disekitar kita, bentuk suatu kesedihan hanyalah luapan emosi ketika sudah menangis, sudah…! air mata tersebut tidak dapat mengembalikan mereka. Mereka sudah pada kehendak Allah untuk menghadapnya.
Orang dewasa akan merubah tangisnya menjadi sebuah bahagia, kebahagiaan yang berawal dari doa, tapi doa bukan henya menengadahkan tangan kepadanya, doa kita sesungguhnya adalah merubah apa-apa yang menyebabkan semua itu terjadi.
Bercerita sedikit, saya membaca dari sebuah rubric media (www.eramuslim.com): Konon, dahulu di Sumatera Barat, ada ungkapan, yang memiliki akar sejarah, yaitu, ‘Adad bersendi syara’, dan syara’ bersendi Kitabullah’. Masihkah, Kitabullah (Al-Qur’an) menjadi pegangan, sandaran, dan rujukan hidup, serta pedoman hidup, terutama dikalangan masyarakat Sumatera Barat?
Sekarang, yang ada hanya kaum ‘pedagang’, yang menjadi generasi baru dikalangan masyarakat ‘Minangkabau’, semangat mengumpulkan menumpuk-numpuk harta, itulah yang menjadi kecenderungan baru. Mereka semuanya sibuk dengan urusan harta dan dunia, tapi mereka tidak mau lagi mengenal akhirat, dan kematian. Mereka terus mengumpulkan danmenumpuk harta, setiap hari dan waktu, tanpa lagi mengingat Rabbnya. Di pasar-pasar, toko-toko, dan perusahaan-perusahaan, yang memberikan kenikmatan kehidupan dunia, dan melalaikan mereka, sampai melalaikan shalat.
Pernahkah kita bersedih, ketika melihat anak-anak muda di
Di
Lagi-lagi jika kita mengaku pada taraf kedewasaan, itu bukan sebuah cerita dongeng, dan yang pasti itu juga bukan hanya cerita Sumatra barat, sepertinya kita yang mengaku orang Indonesia yang mayoritas ISLAM, tentu bukan hal yang tabu ketika “Al-quran” menjadi hukum syari’at, keadaan masyarakat yang mengumpulkan hartapun bukan hal di Sumbar saja terjadi, bahkan ibu kota Jakarta jauh lebih sibuk dengan kegiatan mencari teman yang bernama “Uang”. Terlebih keadaan anak muda yang sudah jarang ke surau, itupun terjadi dengan daerah kita saat ini, tidak harus di Sumbar. Dan karena kebutuhan akan hal yang terjadi ketika agama sudah menjadi hal yang dibelakangkan, jangan harap masjidpun akan ramai, parahnya kebutuhan pula yang membuat lebih banyak bangunan yang memberi manfaat financial untuk kehidupan yang menjadi prospek utama pembangunan.
Orang yang peka dengan keadaan di sekitarnya, menangisi terhadap mereka yang sudah jauh dari Rabbnya, dan meninggalkan agamanya Islam? Mengapa kita tidak menangisi generasi yang sudah jauh dari agamanya Islam, dan menjadi porakporanda akhlaknya, perlilaku kehidupannya, yang akan lebih menghancurkan lagi bagi kehidupan. Tidak ada artinya kerusakan dan kehancuran akhlak, disbanding dengan gempa yang porakporandakan itu. Padahal, semua kehidupan di dunia pasti akan berakhir, termasuk kehidupan manusia itu sendiri. (Merekakah “KITA”??)
Bukan masjid yang sepi, karena fungsi masjid itu sendiri adalah rumah Allah, membangunnya bukan hanya dengan uang yang banyak, saat ini hati kita yang belum terbangun untuk mengenal Allah dan hakikat kehidupan kita, dan saya yakin bukan karena tidak ingin nya kita merubah bukan??? Namun kita tidak sadar bahwa sudah terpedaya dalam kehidupan dunia. Kesadaran itu lahir dengan petunjukNya (Al-quran), Untuk itu semua tangisan kita harus berubah menjadi “BAHAGIA”. Dan kebahagiaan itu hanya akan kita dapat ketika kita mengucapkan kalimat : "LAA ILAAHA ILLALLAAH, MUHAMMADUR-RASULULLAAH" bentuk tauhid kita kepada sang Rabb.
Dalam Al Quran kita sempat diingatkan (QS-Al An'aam: 64) Katakanlah: "Allah menyelamatkan kamu dari bencana itu dan dari segala macam kesusahan, kemudian kamu kembali mempersekutukan-Nya."
(QS. Al-Hijr :18 ) Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Bagi kita yang masih diberi kesempatan,,,???? Masihkah kita bisa untuk MENUNGGU?? Atau tetap menjadi PENONTON dalam hidup ini? Jika HIDUP hanya sekali…???

RSS Feed (xml)